cerpen

MISTERI NOMOR PRIBADI
Aku memang suka iseng kalau berbicara, tapi untuk yang satu ini … Tuhan aku sungguh menyesal …
“Telah terjadi sebuah kecelakaan Bus Pariwisata masuk jurang, di perkirakan 11 orang tewas, 13 orang luka – luka dan 1 orang belum di temukan, saya Ari Kurnia mengabarkan .”
“Hmm, kasian korban yang ilang, aku bantu cari ya .”
Sambil tertawa aku iseng berbicara seperti itu .

Dari kamar terdengar suara Handphone ku berbunyi, waktu aku lihat …
“Eh malah mati, oya … batre nya kan abis .”
aku pun kembali ke ruang TV, tiba – tiba …
“Kriingg … Kriingg …”
“Hah, itu kan suara Handphone ku, bukannya tadi mati .”
Aku kaget mendngar suara itu …
“Hallo ?” (Nomor Pribadi memanggil)

 
Untuk yang ketiga kalinya aku berkata .
“Hallo ? Hallo ? Idih ganggu waktu aja !” Sautku kesal, akupun mematikan teleponnya, dan handphone nya pun kembali mati .
“Aneh .” Kataku dengan raut wajah bingung .
Malamnya aku bermimpi, aku berjalan, hingga tiba di suatu tempat, aku seperti berdiri di atas tebing yang sangat tinggi .
“Kamu akan terbang, melayang, bukan untuk kembali tapi untuk pergi .”

Suara lelaki yang tak ku kenal dan tak berwujud .
“Kriingg … Kriingg…”
“Ting … Tong … Ting … Tong …”

Suara handphone ku yang nyaring, bersamaan dengan suara jam dinding yang menunjukkan pukul 00:00 malam, membuatku terbangun .
“Ha … Hallo ?” Suaraku gugup .
“Happy Birthday sayang, semoga panjang umur, sehat selalu, pkoknya Wish You All The Best ya .”
“Hmm makasih ya sayang, aku juga sampe lupa hari ini hari ultahku .”
“Iya kan a… “(Tut … Tut … Tut …)
“Lho kok mati .”
Tiba – tiba …
“Kriingg … Kriingg …”
“Pasti Doni, barusan juga kan nomor nya di private .”
Waktu aku angkat …
“Kenapa tadi mati Don ?”
“Selembar kertas di depan pintu kamarmu …” Dengan suara hening .
Aku terdiam, sambil berjalan perlahan ke depan pintu kamarku . Terlihat selembar kertas,yang isinya .
“Aku Ingin Seperti Bulan Tuhan …

Aku ingin seperti bulan …
Hanya satu takkan tersaingi
Aku ingin seperti bulan …
Di temani beribu cahaya bintang yang indah
Aku ingin seperti bulan …
Berada jauh di atas sana menyinari orang yang ku sayang
Aku ingin seperti bulan …
Berada di atas menemani orang yang berduka
Aku ingin seperti bulan …
Yang selalu hidup, yang takkan tersakiti, yang takkan menangis, yang takkan mati dan selalu bersinar …”

Air mata ini mengalir perlahan di pipiku . Tiba – tiba …
“Kringg … Kriingg …” Untuk yang kesekian kalinya nomor pribadi memanggilku .
“Hallo ? Ha … Hallo ?” Kataku gugup .
“hhhhhhh .” Dengan suara samar .
“Hallo ? Ini siapa .”

Aku takut sangat takut .
“Sebuah mimpi yang aku ingin kamu mewujudkannya, aku mohon … To … Tolong …” Jawabnya .
“Sekarang …” Katanya dengan suara lantang .

Aku menangis sekeras kerasnya, aku takut, aku bingung, kemana orang – orang di rumah ? Mengapa mereka tidak menghampiriku ? Aku keluar kamar, tak ada siapa – siapa, ku buka pintu rumah tak ada orang .
Nomor Pribadi kembali meneleponku .
Tanpa ku angkat, aku langsung berlari keluar rumah .
“Hiks … Hiks … Hiks …”

Sambil menangis aku terus berlari . Sampai …
“Aku tiba di atas tebing ini, tebing yang sangat tinggi, yang aku mimpikan semalam, hiks … hiks .”
“Terus apa yang harus aku lakukan ?” Tanyaku sambil menangis .
Rasanya kaki ini harus terus melangkah, walau tak ada lagi tempat untuk ku injak .
“Aaaaaaaaaa ….. ” Saat aku terjatuh aku berkata dalam hati “Aku terbang, aku melayang bukan untuk kembali tapi untuk pergi .” Kata hatiku .

Seperti dalam mimpi, aku tertidur tapi tak bisa bangun .
“Braaakkkk …”

Saat tubuh ini menyentuh tanah, terasa sangat sakit, untuk membuka mata pun aku tak sanggup .
“Siapa ini ? Tangan siapa yang ku pegang ?” Dalam hati .
Dengan sisa tenaga aku mencoba menoleh ke samping .

Air mata ini mengalir di pipiku .
“Ini Doni, jadi … Doni korban yang belum di temukan itu ? Do … Doni hiks … hiks … hiks .”
Dan sepertinya dunia ini sudah tak mau menerima hembusan nafasku .
Aku pergi … Denganmu Doni …
“Kringg … Kriingg … Kriingg .. ” ( 1 pesan suara baru )

“Antara Ada dan Tiada
Kan slalu … Ku rasa … Hadirmu … Antara ada dan tiada …
Ku tak bisa menggapaimu takkan pernah bisa
Walau sudah letih aku tak mungkin lepas lagi
Kau hanya mimpi bagiku tak untuk jadi nyata
Dan sgala rasa buatmu harus padam dan berakhir

ANTARA ADA DAN TIADA
(UTOPIA – REFF )

 

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s